Tomyalfaruq’s Weblog

Berteman Hati

Islam dan Pluralitas Agama

1. Konsep-konsep pluralitas agama

Dalam ajaran Islam, hak asasi manusia (HAM) merupakan persoalan yang amat fundamental. Kelahiran Islam sebagai agama beranjak pada realitas kemanusiaan yang sesuai dengan fitrahnya. Wujud ideal pelaksanaannya kemudian dapat kita saksikan melalui kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Penyimpangan prilaku dan peradaban manusia dari prinsip-prinsip kemanusiaan merupakan titik pangkal kenestapaan dan ketakberdayaan itu. Intinya, setiap tindakan yang berbau pelecehan terhadap nilai-nilai dan martabat kemanusiaan serta merugikan manusia adalah pelanggaran terhadap HAM. Dalam konteks ini kehadiran Nabi Muhammad SAW sejak 15 abad yang lalu sangat signifikan, karena beliau telah meletakkan konsep-konsep dasar tentang HAM. Dalam praktiknya, nabi telah menempatkan perilaku dan cara berpikir sebagai kekuatan utama eksistensi kemanusiaan. Ini kemudian menjadi pedoman kita dalam merumuskan dan mengorientasikan perspektif kehidupan terhadap sesama umat manusia dalam dimensi humanistis yang spiritualistis.

Sedangkan kholifah dalam pengertian terminologisnya — yaitu manusia mewakili posisi dan peran ketuhanan di muka bumi berarti manusia yang dengan segala relativitasnya selalu berupaya untuk membenahi diri dengan kualitas yang ada padanya, agar terjadi perubahan dan keteraturan. Sikap demikian merupakan wujud penjelmaan Tuhan. Penjelmaan ini berlaku untuk seluruh lapisan umat manusia, tidak dibatasi oleh suku dan agama.

Pilihan manusia sebagai kholifah, dengan tugas utamanya sebagai pembentuk kebudayaan dan peradaban yang agung dan mulia, adalah realisasi dari kesadaran akan eksistensi kemanusiaannya yang memiliki kemampuan intelektual sebagai dasar dalam berbudaya. Keberadaan manusia di tengah-tengah masyarakat dan sejarah ditandai oleh kemampuan intelektual berupa sikap kritis dan kreatif serta inovatif. Kemampuan ini yang merancang dan melahirkan karya-karya terbaru.

Ketika puncak komunikasi manusia bersentuhan dengan berbagai budaya manusia, maka tidak ada jalan lain yang ditempuh oleh manusia kecuali mengakui adanya keragaman atau universalitas budaya, sehingga ia wajib saling mengenal untuk membangun pengertian guna menghindari hal-hal yang negatif. Karena memang manusia diciptakan dari satu sumber (laki-laki dan perempuan) kemudian berkembang menjadi suku dan menjadi berbangsa untuk saling kenal mengenal (QS 49:13). Ayat tersebut menyiratkan pengertian bahwa Islam sebagai agama sekaligus ajaran yang menjunjung tinggi paham atau konsep pluralitas. Bila dihayati, semua keragaman atau pluralitas budaya manusia merupakan wujud dari eksistensi Tuhan yang terpancarkan melalui kekuatan manusia.

Beranjak pada konsep pluralitas ini, dengan tegas Islam mengajarkan untuk tidak saling mengolok atau mengejek. Karena belum tentu orang yang mengejek itu lebih baik kualitasnya dari yang diejek. Islam juga mengajarkan agar manusia menghindari prasangka jelek terhadap orang lain, karena yang demikian itu merupakan dosa besar. Begitu juga sikap mencari-cari kesalahan orang lain, dan memperguncingkan kesalahan orang lain. Bagi mereka yang melakukan perbuatan seperti itu, sama halnya dengan memakan daging saudaranya sendiri. (QS. 49: 11-12). Ayat tersebut di atas merupakan konsep yang sangat jelas, sebagai dasar etika dan norma antarmanusia dalam proses pembentukan masing-masing kebudayaan dan menghormati kelebihan masing-masing dan mengakui kekurangan masing-masing.

Bertitik tolak dari pandangan bahwa beragama adalah pilihan individual yang fitrah, dan pilihan fitrah merupakan hak privasi setiap individu yang total dan utuh, maka pluralitas agama harus pula diakui keberadaannya secara utuh pula. Perbedaan beragama bukanlah ancaman disintegrasi nasional, karena tidak seorang manusia pun menghendaki perpecahan. Agama dapat menjadi pemicu perpecahan nasional, ketika ia diperlakukan sebagai alat politik untuk merumuskan kepentingan pribadi dan golongannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pluralitas agama merupakan realitas yang patut diterima sebagai wujud dari anugerah Tuhan. Adanya pluralitas agama semata-mata mempertimbangkan aspek keragaman manusia yang menempati persada bumi ini. Dari perspektif ini keberagamaan manusia merupakan pilihan fitrah atau pilihan suci.

Realitas sosiologis menunjukkan pada kita bahwa keberagamaan kita masing-masing lebih dipengaruhi oleh aspek emosional ketimbang kajian intelektual yang bersifat akademis. Tentu proses ini mempengaruhi pemahaman kita yang sangat dangkal dan tidak mendalam, sehingga mempengaruhi prilaku umat beragama yang cenderung fanatik tanpa makna. Hal demikian ini, merupakan fenomena bahkan realitas umum pada semua agama di Indonesia.

Dalam kaitan dengan gagasan tersebut, maka untuk membawa masa depan Indonesia dalam persaingan global, peranan agama perlu dieksplisitkan secara tegas. Mengingat pentingnya hal ini maka diperlukan pendidikan terhadap umat beragama untuk memahami agama secara kualitatif. Dari sini pluralitas agama akan menjadi ruh integrasi bangsa dengan cara berlomba-lomba menuju kebaikan dan karya nyata yang dapat dirasakan manisnya oleh bangsa Indonesia. Dengan demikian meskipun tetap berhadapan dengan badai globalisasi dan berbagai isu SARA, bangsa Indonesia akan tetap bersatu, adil, damai dan sejahtera.

Di Indonesia, pluralisme dalam keberagamaan dapat dibagi menjadi 3 jaman perkembangannya, yaitu:

1. Pluralisme cikal-bakal. Yang di maksud istilah ini adalah pluralisme yang relative stabil, karena kemajemukan suku dan masyarakat pada umumnya masih berada dalam taraf statis. Mereka hidup dalam lingkungan yang relative terisolasi dalam batas-batas wilayah yang tetap, dan belum memiliki mobilitas yang tinggi karena teknologi komunikasi dan transportasi yang mereka miliki belum memadai. Agama-agama suku hidup dalam claim dan domain yang terbatas, tidak berhubungan satu dengan lainnya. Keadaan seperti ini tidak banyak berubah sampai datang pengaruh agama yaitu agama Hindu dan Budha dengan tingkat peradabannya masing-masing.

2. Pluralisme kompetitif. Pluralisme jenis kedua ini kira-kira mulai abad 13 ketika agama islam mulai berkembang di Indonesia, dan kemudian disusul dengan kedatangan agama Barat atau agama Kristen (baik katolik maupun Protestan) pada kira-kira abad 15. konflik dan peperangan mulai terjadi diantara kerajaan islam di pesisir dengan sisa-sisa kekuatan Majapahit di pedalaman Jawa. Ketika penjajah dating dengan konsep “God, Gold, and Glory”, persaingan antara Islam dan Kristen terus berlangsung hingga akhir abad 19.

3. Pluralisme Modern atau pluralisme organik. Di awal abad ke 20, puncak dominasi Belanda atas wilayah nusantara tercapai dengan didirikannya “negara” Nederland Indie. Kenyataan negara ini menjadi sebuah kesatuan organic yang memiliki satu pusat pemerintah yang mengatur kehidupan berdasarkan hukum dan pusat kekuasaan yang riil. Pluralisme SARA memang diperlemah, disegregasikan, dan dibuat terfragmentasikan demi kepentingan Belanda. Kemudian upaya-upaya mansipasi SARA pun terjadi dalam peristiwa Sumpah pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan 1945.

2. Pluralitas Agama dan Berbagai Persoalanya.

Indonesia agalah sebuah pertemuan dan sekaligus kumpulan yang ramai bagi agama-agama di dunia. Pemilihan pancasila sebagai dasar negara mencerminkan adanya pluralitas di Indonesia. Pencantuman sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lain berakar pada realitas kemajemukan agama yang di anut oleh bangsa Indonesia. Dalam konteks berbangsa, bermasyarakat, dan beragam di Indonesia dengan dasar Pancasila seperti yang sudah di jelaskan di atas, di akui ada enam agama di Indonesia. Keenam agama tersebut adalah Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Pluralitas agama di negeri ini merupakan realitas empiris yang tidak bisa di pungkiri. Itulah yang membuat para pendiri bangsa ini mimilih Pancasila sebagai dasar negara yang implicit memberikan dasar-dasar yang kuat bagi warga bangsa ini untuk bersikap toleran, menghargai, kepelbagaian dan menjunjung tinggi perbedaan, dalam hal ini termasuk pluralitas agama. Pada satu sisi pluralitas agama di Indonesia mencerminkan keindahan dan kekayaan tanah air Indonesia. Kemajemukan itu memungkinkan setiap orang untuk melihat dan mempelajari hal-hal yang berbeda dari antara satu sama lainnya. Interaksi antara satu sama lain yang mempunyai agama dan kepercayaan yang berbeda-bedapun dapat dilakukan. Akan tetapi pada sisi lain konteks pluralitas agama dengan sendirinya ternyata tidak selalu berarti baik. Di sana dapat ditemukan hal-hal atau unsur-unsur yang tidak baik termasuk dari dalam agama itu sendiri (institusi agama, kegiatan misi, kepemimpinan) yang memungkinkan terjadinya ketegangan bahkan konflik. Selain itu ada juga faktor non agama ( ekonomi, politik, sosial, budaya) yang juga turut melahirkan perseteruan serta konflik agama. Sejarah bangsa Indonesia menunjukkan pluralitas agama sering menjadi “ladang” atau “pemicu” terjadinya hal – hal yang menakutkan dan menimbulkan penderitaan, pertikaian, permusuhan, kekerasan bahkan pembunuhan. Akibatnya ratusan rumah ibadah dirusak, dihancurkan dan dibakar. Korban berjatuhan, fasilitas umum dirusak, kerugian material tidak terhitung jumlahnya dan meninggalkan trauma yang mendalam dan sulit dipulihkan. Peristiwa yang terjadi silih berganti (Ketapang, Kupang, dan Ambon [juga Poso]), menunjukkan akan hal itu. Meskipun diduga kuat bahwa pertentangan antar­pemeluk agama (Islam-Kristen) itu hanyalah, meminjam Koordinator Badan Pekerja Kontras Munir (Adil, 3-9 Pebruari 1999)­ wilayah tempur bagi pertarungan para elit politik di Jakarta, tetapi sesungguhnya secara empiris harus kita akui bahwa agama memiliki peran dominan, dan tidak ada yang bisa membedung agresifitas (pemeluk) agama-agama.

Jika kita melongok sejarah dan melihat konflik antar­agama di wilayah negara lain, maka akan kita dapati kenyataan yang sama. Sejarah Perang Salib adalah potret pertentangan panjang antar-pemeluk agama (Islam-Kristen). Juga Perang Bosnia (Katolik-­Islam), Pertentangan Panjang Palestian-Israel (Islam-Yahudi), Irlandia (Katolik-Protestan); India (Hindu-Islam), Srilangka (Hindu-Budha), Burma (Budha-Islam), Sudan (Islam-Kristen), dan sebagainya adalah daftar panjang tentang konflik yang sangat kental nuansa agamanya. Tidak salah jika dikatakan bahwa unsur-unsur lain (politik kekuasaan atau kriminal) dalam konflik antar-agama, hanyalah sekedar pemicu, sentimen agama-lah yang sesungguhnya berbicara. Provokator bisa menciptakan kerusuhan besar karena kecerdikannya memainkan sentimen agama, dengan berbagai isu yang menyangkut kehormatan agama. Pada saat itulah agresifitas pemeluk agama menemui puncaknya. Lantas dengan demikian apakah para pemeluk agama yang salah dalam menafsirkan ajaran agama sehingga membangkitkan semangat konflik? Ataukah malah agama itu yang justru mengajarkan konflik? Secara normatif setiap agama menyatakan bahwa ajarannya tidak mengandung unsur konflik. Seruannya adalah damai dan sejahtera. Konflik baru halal jika keadaan terpaksa yaitu saat menghadapi tekanan dan perlawanan musuh. Atas dasar itu, maka tidak banyak yang berani mengangkat (ajaran) agama sebagai faktor pemicu konflik. Tuduhan kemudian dialihkan kepada varian-varian lain di luar agama, misalnya (kepentingan) politik, (kesenjangan) ekonomi, (pertentangan) suku­-ras, dan sebagainya. Jika masih dikaitkan dengan agama biasanya hanya sebatas pada pemeluknya (pemeluk dalam memahami ajaran agama).

Tetapi sekali lagi, secara empiris kita selalu diperlihatkan bahwa banyak konflik yang mengandung sentimen agama, apapun alasannya, menyerang atau mempertahankan diri dari serangan. Oleh karena itu, secara jujur harus kita akui bahwa agama adalah salah satu sumber konflik sebagaimana juga paham hidup yang lain; apakah itu komunisme, kapitalisme, atau nasionalisme (negara bangsa). Tidak ada paham atau ajaran, bahkan komunitas, yang steril dari unsur konflik. Kita lihat konflik di era Perang Dingin, bukankah itu representasi dari konflik komunisme dengan kapitalisme? Jauh sebelumnya, kapitalisme (imperialisme) telah menancapkan kaki-kaki konfliknya di berbagai belahan dunia. Kita tengok pula konflik Irak-Iran; bukankah itu adalah cermin konflik nasionalisme? Demikian juga konfrontasi tempo dulu antara Indonesia dengan Malaysia; bukankah ini konflik antar-(negara bangsa) Indonesia dengan (negara bangsa) Malaysia? Adalah tugas kita, bagaimana agar potensi konflik dalam agama itu tidak sempat benar-benar menjadi konflik! Perlu dikembangkan sikap toleransi yang benar. Toleransi dan moderasi yang diajarkan oleh Nabi dalam sejarah Islam menjadi sebuah acuan bagi umat Islam untuk berinteraksi dengan umat lainnya. Ini bisa diterapkan umat Islam di Indonesia dalam menghadapi kenyataan adanya pluralitas agama. Kita bisa saling bekerjasama dengan umat agama lain dalam memajukan masyarakat. Seperti yang terkandung di dalam Al Qur’an: “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan menyembah apa yang aku sembah.Untukmu agamamu dan untuku agamaku” [QS AI Kaafirun 2,3,dan 6].. Sedangkan kebenaran lebih tinggi nilainya dari kedamaian. Jadi pada dasarnya Islam memberikan kebebasan dan mengajarkan rasa toleransi yang begitu besar, tidak memaksakan kehendaknya pada umat yang lain dan di beri kebebasan untuk memeluk agama sesuai dengan kepercayaan dan hati nuraninya. Pesan-pesan penting yang terdapat di dalam Al Qur’an (QS Al Hujurat) di atas sekaligus menunjukkan betapa Islam sangat menghargai pluralitas agama. Ajaran pluralitas Islam itu bisa disarikan sebagai berikut: (1) agama Islam adalah ajaran kebenaran (2) selain agama Islam, ada agama lain yang perlu dihormati (3) masing-masing pemeluk agama harus tetap memegang teguh ajarannya. Ketiga ajaran pluralitas di atas, tentu saja, tidak menghendaki sikap-perilaku yang saling kontradilaif. Di antara sikap-perilaku kontradiktif yang sering terjadi adalah: (1) sikap yang menganggap semua agama sama, dalam pengertian sama­-sama bernilai benar di sisi Allah (2) memaksa pemeluk lain berpindah agama (3) menghancurkan agama lain, termasuk membunuh pemeluknya atau membakar tempat ibadahnya (4) bertukar ajaran agama layaknya bergonta-ganti baju (karena menganggap semua baju baik semua agama sama/benar), termasuk diantaranya mengikuti ritual agama lain.

3. Strategi Mengelola Pluralitas Agama Menurut Islam

Pluralitas di dalam masyarakat memang bisa terwujud dalam keberagaman beragama. Ini kemudian melahirkan pula perbedaan pandang di dalam kehidupan bermasyarakat. Meski semua perbedaan pandang itu mestinya tak menjadi sumber konflik. Kalau pun perbedaan pandang terus terjadi maka harus tetap diselesaikan dengan cara-cara yang santun, tidak dengan cara kekerasan. Islam sendiri, ungkap Syafii, mencontohkan agar umatnya tetap berbuat baik dan santun dalam menjalin hubungan dengan mereka yang memeluk keyakinan agama yang berbeda. Dan Islam sangat mengerti agama-agama lain, dan bagaimana strategi dalam mengelola suatu perbedaan-perbedaan (agama) yang ada di dunia ini.

Peradaban Islam mencatat strategi yang mengesankan dalam mengelola pluralitas. Dari sejak awal agama ini mewujud dalam sebuah Negara (Daulah Islamiyah) di Madinah, Rasulullah Muhammad Saw telah membuat perjanjian untuk mengelola pluralitas agar tercipta kerukunan dan keharmonisan kehidupan di Madinah. Perjanjian ini yang dikenal dengan nama Piagam atau Konstitusi Madinah. Secara sosiologis saat itu di Madinah terdiri komunitas Muslim, komunitas Yahudi dan orang-orang musyrik. Salah satu isi perjanjian itu berbunyi: Bahwa bangsa yahudi dari bani Auf merupakan sebuah umat bersama orang-orang yang beriman (muslim), bagi bangsa Yahudi agama mereka dan bagi umat Islam agama mereka. Piagam Madinah ini merupakan pengakuan secara de jure Islam atas eksiitensi komunitas Yahudi dan otonomi keagamaannya. Ketika wilayah daulah Islam meluas sampai ke Najran yang dihuni umat Kristen, negara Islam menjadi lebih pluralistik. Umat Kristen tetap memeluk agamanya lalu Nabi Muhammad SAW memperlakukan mereka sama seperti Yahudi yaitu diberikan kebebasan beragama dan status otonomi untuk mengatur urusan keagamaan mereka. Sikap politik Muhammad Saw ini terdapat dalam perjanjian dia dengan suku Najran yang berbunyi: Suku Najran dan sekitarnya mendapat perlindungan Allah dan tanggungan Nabi Muhammad Rasulullah, atas diri mereka, agama, tanah, harta, yang hadir dan tidak hadir, rumah-rumah peribadatan dan salat-salat mereka. Perjanjian-perjanjian sejenis juga dibuat Rasulullah Muhammad SAW kepada komunitas non Islam lainnya seperti dengan Bani Junbah di teluk Aqaba, Bani Ghadiya, Yahudi Bani Uraid, penduduk Jarba dlll. Sikap toleran Islam terhadap non Islam pasca Rasulullah Muhammad Saw dilanjutkan oleh para Khalifah setelah beliau. Dalam bentangan wilayah Khilafah yang demikian luas (2/3 dunia), semua gereja, sinagog dan kuil masih utuh sampai sekarang. Khilafah di Spanyol membuat peradaban Islam, Kristen dan Yahudi mencapai puncaknya. Karena itu, Khilafah di Spanyol terkenal dengan sebutan negara tiga agama. Komunitas-komunitas Kristen di Arab, Yahudi di Arab, Hindu di India sampai sekarang masih eksis walaupun selama 1.400 tahun mereka hidup dalam naungan Khilafah yang menerapkan syariah. Pengalaman Islam dalam mengelola pluralitas yang begitu mengesankan disebabkan oleh syariahnya yang begitu universal. Dalam konteks syariah Islam atau negara yang mayoritas penduduknya muslim, sama sekali tidak relevan wacana dialog antaragama yang berkembang dewasa ini jika tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan, menghilangkan konflik dan demi mewujudkan perdamaian dunia. Mengapa? Karena penjagaan Islam atas pluralitas yang rukun dan harmonis sudah syariahnya. Tinggal persoalannya, apakah syariah itu diterapkan negara atau tidak. Akan tetapi pada masa seperti sekarang ini sangat sulit untuk menerapkan seperti yang dilakukan dan contohkan oleh Rasulullah SAW bagaimana cara dan strategi untuk mengelola perbedaan-perbedaan yang begitu kompleks, karena sedikit timbul masalah maka akan menimbulkan masalah yang berkepanjangan. Salah satu cara untuk mendorong terwujudnya rasa saling menghormati dan menghindarkan kekerasan dalam interakasi dengan umat beragama lain, adalah melalui pendidikan, itupun sangat kurang bermanfaat. Terutama pendidikan yang menyangkut pluralitas atau keragaman yang muncul di dalam masyarakat.

Pendidikan mengenai keragaman ini, tidak berarti mengajarkan kepada masyarakat bahwa semua agama itu sama. Tetapi pendidikan ini menyajikan fakta bahwa ada keragaman di dalam masyarakat. Ada kelompok di dalam masyarakat yang memeluk keyakinan agama lain. ’Pendidikan ini akan memberikan kesadaran bahwa ada orang lain yang memeluk keyakinan yang berbeda dengan kita. Hasil yang dipetik dari pendidikan ini tak seketika dirasakan. Namun, proses pendidikan ini akan berlangsung atau memakan waktu sangat lama. Meski demikian, bila pendidikan ini berhasil tentu akan membuahkan hasil yang sangat menggembirakan pula. Kelak akan ada pemahaman di kalangan mayarakat untuk saling menghormati dan menyelesaikan segala masalah yang terkait pemeluk agama yang berbeda, dengan cara berdialog.

Dengan memahami ajaran pluralitus agama di atas maka akan terlihat bahwa fenomena-fenomena berikut ini tidaklah patut dilakukan: proyek kristenisasi yang dilakukan oleh agama Kristen terhadap pemeluk agama Islam. Fenomena ini, dalam kaitannya dalam pluralitas agama, menunjukan dua hal: (1) tidak adanya kesadaran dari elit proyek kristenisasi untuk tidak memaksa pemeluk Islam berpindah agama Kristen. Proyek kristenisasi ini terkategori memaksa karena perpindahan agama di situ bukan didasarkan pada pencarian kebenaran secara obyektif, malainkan hanya karena paksaan (iming-iming) kesejahteraan ekonomi (2) masih banyaknya pemeluk Islam yang tidak mampu berpegang teguh pada kebenaran ajaran islam, sehingga secara mudah dipaksa berpindah agama. Pemaksaan kepada pemeluk agama Islam untuk berpindah ke agama Kristen lewat proyek Kristenisasi akan menimbulkan tindakan pelanggaran lain terhadap kaidah pluralitas agama, misalnya pembakaran gereja yang dianggap menjadi pusat (perencanaan) Kristenisasi. Kasus pembakaran kompleks Dolulos mungkin bisa dijelaskan dengan hukum aksi-reaksi ini. Pembakaran gereja di Mataram dan Yogyakarta, dalam konteks ini pun, tidak akan terjadi jika tidak ada upaya sistematis pemusnahan umat Islam di Maluku (Utara).

Demikianlah seterusnya yang terjadi jika terjadi pelanggaran terhadap kaidah pluralitas agama. Setiap ada pelanggaran akan memunculkan pelanggaran baru. Tidak relevan lagi memaksakan suatu pemikiran persamaan agama (agama-agama itu sama). Secara subjektif, para pemeluk agarna itu berhak meyakini agamanya yang benar, dan agama lain salah. Meskipun begitu perlu dikembangkan ruang terbuka untuk mengembangkan sikap dan kajian pada tataran objektif. Dengan sikap objektif kita harus menerima bahwa ada realitas agama lain selain agama yang kita anut. Meskipun begutu, sah-sah saja, bahkan kalau perlu dikembangkan, kajian objektiF tentang kebenaran agama. Sebab, logika saja sudah membenarkan bahwa tidak masuk akal jika agama-agama yang ada ini sama (dan benar semua). Logika ini perlu dipertajam dengan pertanyaan: benarnya semua agama, apakah menunjukkan tuhan itu banyak? Atau jika dibalik: tuhan itu satu, tapi menurunkan banyak agama? Rasa-rasanya tidak masuk akal kedua pertanyaan ini. Toh pada realitasnya, konsep dan ajaran agama-agama beda dan bertolak belakang satu dengan lainnyaToleransi itu artinya sikap menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang memeluk agama lain (meskipun agama itu salah). Mereka tetap berhak untuk itu dan kita tidak berhak mengganggunya (selama mereka tidak mengganggu kita). Dengan sikap toleransi seperti ini, misalnya, agama saya (Islam) menggembangkan bangunan rahmatan lil alamin. Jadi agama itu bukan unsur SARA dalam pengertian sebagai sumber konflik dan pertentangan, jika kita mau berpikir dan bersikap objektif, tidak mengada-ada.

Kesimpulan

Telah menjadi sunnah Allah bahwa sejak semula Allah SWT menciptakan manusia tidak seragam, tidak homogen, akan tetapi beranekaragam, heterogen, plural, sekalipun dulu sama-sama dari Adam dan Hawa. Padahal kita yakin, sebenarnya allah sangat berkuasa andaikata manusia itu seragam, tidak perlu ada bermacam-macam perbedaan. Pluralisme dalam Islam mengajarkan, tidak hanya manusia, tetapi semua makhluk adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Dari bermacam-macam itu, yang paling di cintai oleh Allah ialah yang paling bermanfaat kepada orang dan makhluk Allah yang lain. Di Indonesia, pluralisme dalam keberagamaan dapat dibagi menjadi 3 jaman perkembangannya, yaitu:

1. Pluralisme cikal-bakal.

2. Pluralisme kompetitif.

3. Pluralisme Modern atau pluralisme organik.

Keenam agama tersebut adalah Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.Pluralitas agama di negeri ini merupakan realitas empiris yang tidak bisa di pungkiri. Itulah yang membuat para pendiri bangsa ini mimilih Pancasila sebagai dasar negara yang implicit memberikan dasar-dasar yang kuat bagi warga bangsa ini untuk bersikap toleran, menghargai, kepelbagaian dan menjunjung tinggi perbedaan, dalam hal ini termasuk pluralitas agama. Sejarah Perang Salib adalah potret pertentangan panjang antar-pemeluk agama (Islam-Kristen). Juga Perang Bosnia (Katolik-­Islam), Pertentangan Panjang Palestian-Israel (Islam-Yahudi), Irlandia (Katolik-Protestan); India (Hindu-Islam), Srilangka (Hindu-Budha), Burma (Budha-Islam), Sudan (Islam-Kristen), dan sebagainya adalah daftar panjang tentang konflik yang sangat kental nuansa agamanya.

DAFTAR PUSTAKA

Idris, H.A Manan dkk. 2006. Reorientasi Pendidikan Islam.Malang: Hilal Pustaka.

Al-Rifa’i, Muhammad Nasib.1999. Taisir al- Aliyy al-Qadir li Ikhtisar Tafsir Ibn Kasir I (terjemahan). Jakarta:Gema Insani Press.

Nurfatoni, Mohammad2000. Islam dan Pluralitas Agama. Jurnal Ilmu Pendidikan Agama, (Online), Jilid 4, No 2, (http://www.malang.ac.id, diakses 14 Agustus 2007).

Husaini, Adian. 2002. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Jakarta: Gema insani Press.

Tim Dosen PAI.2002. Pendidikan Agama Islam Untuk Mahasiswa. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Manurung, Hendra. 2006. Upaya Memahami Pluralitasme Agama. Jurnal Ilmu Pendidikan Agama, (Online), Jilid 3, No 4, (http://www.google.com, diakses 14 Agustus 2006).

About these ads

April 22, 2008 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: