Tomyalfaruq’s Weblog

Berteman Hati

Kenakalan Remaja

 

TOMY SUHERDIYANTO

TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

 

A. Latar Belakang

Ketika jaman berubah dengan cepat, salah satu kelompok yang rentan untuk ikut terbawa arus adalah para remaja. Mengapa? Tak lain karena mereka memiliki karakteristik tersendiri yang unik: labil, sedang pada taraf mencari identitas, mengalami masa transisi dari remaja menuju status dewasa, dan sebagainya, yang sering kita sebut sebagai “kenakalan remaja”.

Kenakalan remaja merupakan masalah yang sering menimbulkan kecemasan social karena aksesnya dapat menimbulkan kemungkinan “gap gerneration” , sebab mereka yang di harapkan sebagai kader-kader penerus serta calon-calon pemimpin bangsa banyak yang tergelincir kedalam jurang kehinaan. Bagaikan kuncup bunga yang brguguran sebelum mekar menyerbakan wangi.

Akan tetapi kiranya kitasependapat, kenakalan anak sebagai sesuatu sifat kodrati yang tidak dapat dibendung atau ditiadakan, tetapi hanya skedar di tangkal dengan cara-cara atau usaha-usaha secara bijak, sehingga tidak berakibat fatal serta merugikan masyarakat banyak.

 

 

B. Tujuan

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan ringkasan beserta pembahasan yang terkait dengan fenomena remaja. Sehingga di harapkan kita semua dapat mengetahui kasus-kasus atau masalah- masalah yang timbul pada usia ramaja. Karena merekalah kelak yang akan meneruskan perjuangan bangsa dalam mengisi kemerdekaan ini.

 

 

C. Organisasi Penyajian

Bagian pembahasan dalam tulisan ini diorganisasi secara berurutan sebagaimana mulai dari bentuk-bentuk kenakalan hingga bagaimana cara mengantisipasinya.

 

 

 

D. Pembahasan

1. Aspek Sosiologis Kenakalan Remaja

Secara sosiologis, remaja umumnya memang amat rentan terhadap pengaruh-pengaruh eksternal. Karena proses pencarian jati diri, mereka mudah sekali terombang-ambing, dan masih merasa sulit menentukan tokoh panutannya. Mereka juga mudah terpengaruh oleh gaya hidup masyarakat di sekitarnya. Karena kondisi kejiwaan yang labil, remaja mudah terpengaruh dan labil. Mereka cenderung mengambil jalan pintas dan tidak mau pusing-pusing memikirkan dampak negatifnya. Di berbagai komunitas dan kota besar yang metropolitan, jangan heran jika hura-hura, seks bebas, menghisap ganja dan zat adiktif lainnya cenderung mudah menggoda para remaja. Siapakah yang harus dipersalahkan tatkala kita menjumpai remaja yang terperosok pada perilaku yang menyimpang dan melanggar hukum atau paling tidak melanggar tata tertib yang berlaku di masyarakat? Inilah yang menjadi konflik, siapakah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada remaja.

 

2. Aspek Fenomenologis Kenakalan Remaja

Secara fenomenologis tampak bahwa gejala kenakalan timbul dalam massa pancaroba atau massa perubahan, di mana telah tercantum dalam aspek sosiologis di atas, bahwa dalam usia remaja inilah jiwa dalam keadan labil. Sehingga mudah terseret oleh lingkungan. Akan lebih baik bila terseret atau terpengaruh oleh lingkungan yang positif tetapi bila yang terjadi sebaliknya maka akan berakibat fatal. Seorang anak tidak akan tiba-tiba menjadi nakal, tetapi menjadi nakal karena beberapa saat setelah di bentuk oleh lingkunganya, yang mencakup linkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat, yang merupakan tempat terjadinya pendidikan secara sadar maupun tidak sadar. Yang menghasilkan sesuai dengan pelaksaan maupun tujuan dari pendidikan tersebut.

Beberapa perbuatan kenakalan remaja :

Dari uraian di atas telah di ketahui bahwa kenakalan ialah perbuatan yang melanggar atau menyelewengkan norma social yang menibulkan keonaran atau mengganggu ketentraman masyarakat, sehingga yang berwajib terpaksa mengambil tindakan pengamanan.

 

Perbuatan-perbuatan tersebut antara lain :

a). Ngebut, yaitu mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang melampaui kecepatan maksimum yang di tetapkan, sehingga dapat mngganggu bahkan membahayakan pemakai jalan yang lain.

b). Peredaran pornografi di kalangan pelajar, baik dalam bentuk gambar-gambar cabul atau tidak senonoh, majalah dancerita porno yang dapat merusak moral anak, sampai perdaran obat-obat perangsang nafsu seksual, kontrasepsi penyalahgunaan barang-barang elektronik (missal internet dan handphone) dan sebagainya.

c). Anak-anak yang suka pengrusakan-pengrusakan terhadap barang-barang atau milik orang lain seperti mencuri, membuat corat-coret yang mengganggu keindahan lingkungan, mengadakan sabotase dan sebagainya.

d). Membentuk kelompok atau gang dengan ciri-ciri dan tindakan yang menyeramkan, seperti kelompok bertato, kelompok berpakaian acak-acakan, blackmetal. Yang di ikuti oleh tindakan yang tercela yang mengarah pada perbuatan anarkis.

e). Berpakaian dengan mode yang tidak sesuai dengan keadaan lingkungan, missal: memakai rok mini, youcansee, mamakai pakaian yang serba ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya, sehingga di pandang kurang sopan di mata lingkunganya.

f). Mengganggu/mengejek orang-orang yang melintas di depanya, jika menoleh atau marah sedikit saja di anggapnya membuat gara-gara untuk dikerjain.

 

Faktor-faktor penyebab kenakalan :

1). Lingkungan keluarga yang kurang harmonis ataupecah, kurang perhatian, kurang kasih sayang sesama anggota keluarga, egoisme, karena masing-masing sibuk dengan urusanya masing-masing. Sebagai contoh : Orang tua yang sibuk dengan pekerjaanya, berangkat pagi pulang malam dengan dalih mencari nafkah dan demi massa depan anak-anaknyasehingga tidak ada waktu untuk sekedar bercakap-cakap atau bercengkrama dengan anak-anak maupun anggota kelurga yang lainya. Dari sinilah kemudian anak-anak akan mencari kesenangan di luar, dengan alasan menacari sesuatu yang mereka anggap bisa sebagai obat kurangnya kasih saying dari orang tuanya yang kurang memperhatikan mereka. Akan tetapi banyak di antara mereka yang terperosok ke dalam dunia hitam.

2). Situasi (sekolah, lingkungan) yang menjemukan dan membosankan, padahal tempat-tempat tersebut mestinya dapat merupakan factor penting untuk mencegah kenakalan bagi anak-anak (termasuk lingkungan yang kurang rekreatif.

3). Lingkungan masyarakat yang kurang menentubagi prospek kehidupan yang akan datang, seperti masyarakat yang penuh spekulasi, korupsi, manipulasi, gossip, isu-isu negative, perbedaan yang trelalu mencolok antara sikaya dan simiskin, perbedaan kultur, ras dan adat. Bisa juga karena memang mereka hidup di atas binaan orang-orang jahat (lingkungan preman, Bandar narkoba, perampok dan lain-lain).

4). Salah pergaulan, jika para remaja salah dalam pergaulan (bergaul dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab) maka mereka akan meniru orang tersebut, dan inilah salah satu akibat dari pergaulan bebas. Tetapi tidak berarti anak remaja tidak di perbolehkan bergaul dengan orang lain. Dalam pengertian ini hanya sebatas menjaga jarak dalam pergaulan.

 

3. Aspek Ekonomi dalam Kenakalan Remaja

Pertumbuhan ekonomi juga mempunyai dampak bagi perkembangan ramaja. Karena pada umumya bukan hanya orang tua saja yang merasakan akibat dari perkembangan ekonomi tersebut akan tetapi generasi muda juga akan merasakan dampaknya. Apalagi di zaman seperti sekarang ini, bahwa kehidupan serbasulit. Untuk hanya sekedar mencari sesuap nasi kita harus bekerja keras. Tak jarang di kota-kota besar para remaja yang seharusnya duduk di bangku sekolah, terpaksa harus putus sekolah (DropOut) karena orang tua mereka tak sanggup menyekolahkanya. Dan mereka beralih membantu orang tuanya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan ada di antara mereka yang disuruh oleh orang tuanya untuk mengemis, ngamen, tukang semir sepatu dan lain sebagainya, yang penting dapat menghasilkan uang. Mau tidak mau mereka akan mengenal dunia kerja dalam persaingan yang ketat, sehingga mendidik mereka menjadi orang yang keras dan merasakan betapa getirnya hidup ini bagi orang-orang seperti mereka..Kondisi yang ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran, sulitnya lapangan kerja, serta daya beli masyarakat yang rendah menjadikan sebagian masyarakat seakan terjebak dalam dua pilihan yaitu bertahan untuk hidup secara lurus atau secara menyimpang (Juvenile Delinquency). Hal semacam ini merupakan factor korelatif kriminogen yang tidak hanya di lakukan orang dewasa akan tetapi di lakukan juga oleh para remaja, apabila tidak dapat dikelola dengan baik akan menimbulkan tindak criminal (orang dewasa) dan kenakalan (para remaja) yang lebih signifikan.

Masih lemahnya pengawasan untuk usia remaja sehingga mereka merupakan ladang subur bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab, untuk mancapai tujuanya.

Dan masih terbatasnya kerjasama antara pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan yang mempunyai tujuan mendidik yang berorientasi positif untuk membentuk generasi yang cemerlang untuk massa yang akan datang sebagai penerus perjuangan mereka dalam mengisi kemerdekaan ini.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan semakin mengglobalnya dunia menyebabkan generasi ini yang masih labil dan rasa ingin tahu yang bergejolak di jiwanya untuk selalu menyesuaikan perkembangan zaman. Namun sebagian besar di antaranya salah dalam melangkah dalam menggunakan kecanggihan teknologi tersebut.

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, aparat keamanan semakin intensif dan berhasil menggulung sejumlah pengguna dan bandar pengedar narkoba.. Lebih lanjut, terbongkarnya sejumlah sentra-sentra produksi narkoba berskala

besar terutama sabu-sabu, ekstasi, dan ladang ganja, menimbulkan harapan baru

menurunnya kasus-kasus kejahatan narkoba. Beberapa kasus besar narkoba yang berhasil

dibongkar oleh aparat keamanan pada diantaranya adalah tertangkapnya sejumlah bandar narkoba dari dalam dan luar negeri, seperti kasus Roy Marten yang tertangkap basah saat sedang pesta narkoba bersama rekanya yang di dedikasi sebagai Bandar narkoba, pemusnahan ladang ganja, pembongkaran pabrik ekstasi dan sabu-sabu skala besar di berbagai daerah, serta penggagalan rencana transaksi narkotika jenis sabu-sabu seberat hampir 1 ton dengan nilai Rp. 600 milyar di Teluk Naga Tangerang. Namun demikian keberhasilan tersebut belum dapat menurunkan tingkat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba terkait dengan nilai ekonominya yang sangat tinggi.

 

 

Kebijakan-Kebijakan yang Dapat Dilakukan untuk Menangkal Kenakalan

Kiranya kita sependapat, melalui Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekoalah, dan masyarakat) dapat dilakkukan secara bersama-sama dan bahu-membahu dalam menangkal kanakalan anak/remaja dengan penuh kearifan demi tercapainya tujun mulia dengan resiko yang sekecil-kecilnya, baik oleh para pendidik, orang tua, pemuka masyarakat, pemuka agama, penegak hukum, ahli hukum, dokter, psikolog, dan pejabat pemerintah, secara preventif maupun secara represif.

 

A. Dalam Keluarga

Keluaga merupakan lingkunganpendidik yang brsifat primer dan fundamental. Disitulah anak di bearkan, memperoleh penemuan awal, serta belajar yang memungkinkan perkembangan diri selanjutnya. Dalam keluarga pula pertama-tama memperoleh perlindungan yang pertama. Setiap anggota harus merasakan ketenangan, kegembiraan, keamana dan kenyamanan dalam keluarga. Setiap permasalahan keluarga hendaknya melalui musyawarah untuk mencapai mufakat dalam kesatuan pendapat. Sebaiknya jika keluarga mulai retak apalagi pecah, maka di situlah sumber kanakalan anak. Meskiun suami dan istri sibuk berkarya di luar rumah mencari nafkah, namunapabila perhatian serta kaih saying orang tua terhadap anaknya tetap tak bokeh terabaikan, agar tidak menjadi penyebab timbulnya kenakalan.

Sebaiknya dalam mengambil kebijakan serta menangkal kenakalan angggota keluarganya memperhatikan hal berikut :

a). Bila orang tua melihat anaknya ngebt, maka berikanlah penjelasan tentang resiko atau bahaya-bahaya akibat ulah tersebut.

b). Untuk menagkal peredaran pornografi sebaiknya diberikan bacaan-bacaan yang bermanfaat yang sesuai dengan minat anak, hal ini akan menimbulkan minat baca anak.

c). Mencegah kaikutsertaan anak dalam kelompok “gang”, dengan mengisi kesibukan keluarga, missal dengan gotong-royong.

d). Meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT dangan mengikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

e). Orang tua harus senantiasa memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Dan cepat tanggap terhadap gejala-gejala kenakalan.

 

 

 

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: